Nantikan cerita dari dunia AVK melalui InterLink no. 71

Ketahui lebih lanjut mengenai proyek, inisiasi dan bisnis termutakhir kami dalam edisi Juni majalah AVK. 07-07-2026

Dunia tidak berada dalam ambang kebangkrutan air—melainkan sudah mengalaminya.

Pernyataan ini berdasarkan laporan terkini dari United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH).
Seiring dengan semakin parahnya pencemaran sumber daya air kita, semakin intensifnya perubahan iklim, dan berubahnya pola konsumsi—terutama di kota-kota besar yang mengalami pertumbuhan penduduk dan industrialisasi yang semakin meningkat—pasokan air kini menghadapi tekanan yang sangat besar untuk menyediakan volume yang dibutuhkan guna mempertahankan layanan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Laporan itu menyebutkan:

“Air tanah kini memenuhi sekitar 50% kebutuhan air rumah tangga global dan lebih dari 40% kebutuhan air irigasi, sehingga ketersediaan air minum dan produksi pangan sama-sama bergantung langsung pada cadangan air tanah yang semakin menipis dengan cepat. Sekitar 70% cadangan air tanah utama di dunia menunjukkan tren penurunan untuk jangka panjang. Pengambilan air tanah yang berlebihan telah berkontribusi terhadap penurunan permukaan tanah yang signifikan di wilayah seluas lebih dari 6 juta kilometer persegi—hampir 5% dari luas daratan global—termasuk di wilayah perkotaan dan kawasan padat penduduk seluas lebih dari 200.000 kilometer persegi, yang ditinggali hampir 2 miliar orang. Di beberapa lokasi, tanah mengalami penurunan hingga 25 sentimeter per tahun, yang secara permanen mengurangi kapasitas penyimpanan air dan meningkatkan risiko banjir. Perairan dangkal menyusut secara luas. Semakin banyak sungai besar yang kini tidak dapat mencapai laut atau alirannya turun di bawah kebutuhan aliran lingkungan selama beberapa bulan dalam setahun. Lebih dari setengah danau besar di dunia telah kehilangan airnya sejak awal tahun 1990-an, yang berdampak pada sekitar seperempat populasi global yang bergantung langsung pada danau-danau tersebut untuk memenuhi kebutuhan air mereka.”

Suplai air yang bergantung pada lelehan dari gunung es juga menemui kesulitan. Lebih lanjut dalam laporan tersebut diulas:

“Beberapa lokasi di dunia telah kehilangan 30% gletser sejak 1970. Beberapa pegunungan di lintang rendah dan menengah memiliki risiko kehilangan gletser fungsional mereka dalam beberapa dekade, mengurangi ketahanan air jangka panjang dari orang-orang yang bergantung pada air lelehan gletser dan sungai lelehan salju yang dipakai untuk minum, irigasi dan juga waduk.”
Perubahan iklim tidak hanya mengakibatkan ancaman pada sumber air, namun juga menimbulkan perubahan dari pola konsumsi masyarakat. Pada masa kekeringan, konsumen pasti menggunakan lebih banyak air dari biasanya dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut selama 24 jam setiap hari, penyedia layanan air pasti menyediakan cadangan setidaknya 30% dari kapasitas yang biasa disuplai.

Pada 2023, Bank Dunia menerbitkan laporan yang ditujukan untuk semua pemerintahan di dunia: ’Apakah kamu tahu berapa banyak air yang dibutuhkan sekarang, 10 tahun lagi, dan 20 tahun lagi? Dan tahukah kamu berapa banyak air yang tersisa sekarang, 10 tahun lagi, dan 20 tahun lagi?’ Jawabannya mungkin tidak—tidak ada yang tahu persis.

Satu hal yang bisa dilakukan, dan sesuatu yang AVK dapat berikan, adalah untuk menangani kebocoran pada jaringan distribusi air dunia. Dengan melakukan ini, 30% air dapat diselamatkan, yang mana setara dengan rata-rata jumlah kehilangan air (non-revenue water). Teknologi District Metering Area (DMA) dan digitalisasi merupakan langkah ke depan untuk mengurangi kehilangan air pada jaringan distribusi air.

Selamat memulai musim panas dan terima kasih sudah membaca

Michael Ramlau-Hansen.